Financial Market Update

Point of Interest:

·       FOMC meeting hold suku bunga acuan dengan pernyataan yang bernada hawkish. Suku bunga acuan The Fed dipertahankan di level 4,25%–4,50% selama lima kali pertemuan secara berturut-turut, sejalan dengan konsensus pelaku pasar. Fed Chairman, Jerome Powell, menyatakan bahwa The Fed perlu bersabar dalam menghadapi ketidakpastian tarif dan inflasi sebelum menurunkan suku bunga. Lebih lanjut Powell menyatakan bahwa kondisi pasar tenaga kerja AS saat ini masih kuat dan inflasi masih di atas target, sehingga kondisi suku bunga saat ini relatif sudah tepat. Pasca pernyataan hawkish Powell tersebut, pelaku pasar memperkirakan penurunan suku bunga AS pada tahun ini hanya akan terjadi satu kali pada bulan Oktober. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang penurunan suku bunga AS di bulan September turun dari sebelumnya 65% ke 46%, sedangkan peluang penurunan di bulan Oktober naik menjadi 65,1%.

·    Rilis data AS: Ekonomi AS tumbuh sebesar 3,0% QoQ pada 2Q25, pulih dari kontraksi sebesar 0,5% QoQ pada 1Q25, dan di atas ekspektasi konsensus yaitu pertumbuhan sebesar 2,4% QoQ, yang ditopang oleh belanja konsumen yang meningkat lebih cepat dan pemulihan belanja pemerintah.  Selain itu, rilis data ketenagakerjaan menunjukkan momentum pasar tenaga kerja AS yang kuat masih terus berlanjut. Perusahaan swasta di AS menambahkan sebesar 104.000 lapangan kerja pada Juli 2025, merupakan kenaikan terkuat sejak Maret 2025 dan jauh di atas ekspektasi konsensus sebesar 75.000. Data ketenagakerjaan pulih dari hilangnya 23.000 lapangan kerja pada Juni 2025.

·     Kebijakan tarif Trump: Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif 25% atas ekspor India ke AS mulai hari Jumat serta mengancam akan mengenakan denda tambahan atas pembelian energi India dari Rusia. Trump juga menyatakan bahwa baseline tarif secara global akan berada di kisaran 15% hingga 20%, meskipun puluhan negara masih belum mencapai kesepakatan perdagangan dengan AS. Namun, beberapa negara, termasuk Brasil dan Laos, diberitakan telah menerima tarif sebesar 40% dan 50%. Pelaku pasar masih mengamati dengan seksama perkembangan diskusi tarif dengan negara-negara mitra utama AS seperti Kanada, Meksiko, dan Australia.

·     Harga obligasi domestik mayoritas bergerak melemah dengan kenaikan yield pada kisaran 1-5bps, kecuali pada tenor di atas 15 tahun yang cenderung menguat terbatas di kisaran 1-2bps. Pergerakan SBN dipengaruhi oleh keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunganya tetap di kisaran 4,25% - 4,50%, disusul Bank of Japan (BoJ) yang juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,5%. Harga yang cenderung tidak bergerak signifikan mencerminkan bahwa investor telah mengantisipasi keputusan tersebut, di tengah ketidakpastian mengenai dampak kebijakan tarif terhadap dinamika inflasi global ke depan. Volume transaksi SBN secara outright mencapai Rp38,0 triliun pada hari ini, turun dibandingkan kemarin sebesar Rp27,5 triliun. 

·       IHSG ditutup melemah -0,87% ke level 7.484,34, terutama disebabkan penurunan tajam pada saham BBRI dan BBCA.    

·       Rupiah melemah sebesar -0,38% ke level Rp16.455, dari penutupan hari sebelumnya di level Rp16. 393.

 

 

Divisi Pengelolaan Investasi

DAPENBI IP