Financial Market Update - Senin 13 Juni 2022


POI - Point of Interest:

Tekanan di pasar global kembali berlanjut. Rilis data inflasi AS bulan Mei 2022 tercatat sebesar 1,0% MoM dan 8,6% YoY, lebih tinggi dari ekspektasi konsensus Bloomberg yang sebesar 0,7% MoM dan 8,3% YoY. Harga energi naik 34,6% YoY, tertinggi sejak September 2005, karena bensin naik 48,7% YoY dan harga gas naik 30,2% YoY. Harga pangan melonjak 10,1% YoY, kenaikan pertama sebesar 10% atau lebih sejak Maret 1981 karena harga daging, ayam, ikan, dan telur naik 14,2% YoY. Inflasi yang mencapai level tertingginya dalam 40 tahun terakhir ini juga meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi resesi ekonomi AS.

Tekanan inflasi yang meningkat turut meningkatkan spekulasi investor terhadap langkah-langkah yang lebih agresif dari Bank Sentar AS dlm menaikan suku bunga acuannya di tahun ini. Berdasarkan World Interest Rate Probability Bloomberg, pelaku pasar saat ini memperkirakan Fed Fund Rate akan dinaikkan sebesar 225 bp lagi hingga akhir tahun 2022, lebih tinggi dari ekspektasi sebelumnya yang sebesar 200 bp.

Potensi kenaikan yield di pasar surat utang Indonesia akan terjadi dalam waktu dekat seiring dengan meningkatnya tekanan eksternal serta berlanjutnya tren kenaikan yield UST.

Yield UST tenor 10-tahun ditutup pada level 3,17%, bergerak mendekati ke puncak tertingginya dalam tiga tahun terakhir di level 3,20%, karena investor melihat prospek kebijakan moneter ke depan setelah data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan. Pada saat yang sama, data Michigan consumer sentiment turun ke rekor terendahnya di 50,2 pada Juni 2022, yang selanjutnya memicu kekhawatiran tentang resesi ke depan.

Harga emas dunia pada hari ini di pasar spot berada di US$ 1.857,31 per troy ons, melemah 0,73%. Dalam sepekan, harga emas masih menguat 0,89% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas juga masih menanjak 2,55% sementara dalam setahun merosot 0,47%.

Nilai tukar yen anjlok melawan USD pada perdagangan Senin (13/6/2022) hingga menyentuh rekor terlemah dalam nyaris 1/4 abad. Menurut data Refinitiv, yen anjlok hingga 0,8% pagi tadi ke JPY 135,17/US$ yang merupakan level terlemah sejak Oktober 1998. Sementara melawan rupiah, yen menguat 0,74% ke Rp 109/JPY, tetapi masih dekat dengan level terelemah dalam 5 tahun terakhir.

IHSG ditutup melemah 91,21 poin atau 1,29% ke posisi 6.995,44, sementara Indeks LQ45 turun 9,1poin atau 0,89% ke posisi 1.010,14. Pelemahan IHSG ini dipicu adanya kekhawatiran terkait global stagflasi dan adanya kekhawatiran terkait ekspektasi aggresive tightening monetary policy dari The Fed saat rapat FOMC pekan ini.

Penutupan IHSG diiringi oleh investor asing di seluruh pasar yang ditunjukkan dengan net foreign buy di seluruh pasar sebesar Rp376,82M, sedangkan di pasar reguler tercatat aksi beli asing dengan net buy Rp299,85M.

Harga komoditas energi berpotensi turun pekan ini, mengutip Barchart (Senin 13 Juni 22), harga komoditas energi seperti harga batubara turun 5,07% selama sepekan ke level US$ 317,50 per ton, dibandingkan pekan sebelumnya Senin (6/6) sebesar US$ 333,60 per ton. Harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juli 2022 berada di level US$ 119,03 per barel atau naik sebesar 0,44% dari US$ 118,50/barel di pekan sebelumnya. Salah satu penyebab harga batubara yang terus mengalami penurunan yang cukup signifikan yakni disebabkan oleh kekhawatiran akan dampak dari kasus kenaikan Covid-19 di Tiongkok.



Demikian disampaikan, terima kasih.


Divisi Pengelolaan Investasi


DAPENBI IP