Financial Market Update
POI - Point of Interest:
Yield
US Treasury tenor 10-tahun turun 4 bp ke level 3,39%, seiring investor yang
bereaksi positif terhadap data inflasi AS untuk Maret 2023 yang berada di bawah
ekspektasi konsensus, mengindikasikan bahwa Fed kemungkinan akan menghentikan
siklus pengetatan moneternya setelah kenaikan suku bunga sebesar 25 bp pada
bulan Mei 2023.
Tingkat
inflasi di AS melambat selama 9-bulan secara berturut-turut ke level 5,0% YoY
pada Maret 2023, merupakan level terendahnya sejak Mei 2021, di bawah tingkat
inflasi 6,0% YoY pada Februari 2023 dan di bawah perkiraan konsensus di level
5,2% YoY. Sementara itu, inflasi inti AS tumbuh sebesar 5,6% YoY dan 0,4% MoM
sejalan dengan ekspektasi konsensus.
Risalah
dari pertemuan FOMC bulan Maret 2023 menunjukkan bahwa Fed memperkirakan akan
terjadi resesi tahun ini karena gejolak di sektor perbankan. Selain itu,
anggota FOMC mengamati bahwa inflasi AS akan tetap berada pada level tinggi dan
pasar tenaga kerja akan tetap dalam kondisi yang ketat dalam jangka menengah.
Harga
minyak Brent naik sekitar 2,0% ke level USD87/barel, mencapai level
tertingginya sejak November 2022, karena diuntungkan dari pelemahan indeks
dolar dan kekhawatiran investor atas pasokan minyak global yang ketat, setelah
pengiriman dari Rusia melambat setelah Rusia berjanji untuk mengurangi produksi
minyaknya ke depan.
Menurut
IMF, pertumbuhan PDB Indonesia diperkirakan akan stabil di sekitar 5,0% YoY
pada 2023-2024 dan tingkat inflasi diperkirakan sekitar 3,0% YoY, sejalan
dengan target Bank Indonesia sebesar 2% -4% YoY. Sementara itu, IMF
ekspektasikan bahwa Neraca Transaksi Berjalan Indonesia kemungkinan akan
kembali ke kondisi defisit akibat normalisasi harga komoditas.
IHSG
ditutup melemah 0,20% atau 13bps ke level 6.785,60.
Rupiah
ditutup menguat 0,87% atau 129bps ke level Rp14.751/USD, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level
Rp14.880/USD.
Demikian disampaikan, terima kasih.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP